Surat Bersejarah
Nih surat punya sejarah yang lumayan nyentrik. Asal mulanya dari surat Sdr. Muhklis yang saat itu mengirimkan posting-nya ke milis KMKM. Setelah pihak Wisma menanggapi di media yang sama, beberapa komentar lucu langsung antri setelah itu.
Tapi akhirnya, pertemuan diadakan. Kondisi bisa dikendalikan. Semoga saja semua pihak bisa legowo.
Nih dia suratnya....
Wassalamu'alikum Warahmatullah wabarakatuh
Innalhamdaliilah wasshalatu wassalamu ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajmain.
Terima kasih kepada Sdr. Mukhlis yang memberikan masukan bagi pihak Wisma KMKM via milist ini. Insya Allah kami akan segera menindak lanjuti temuan ini. Rencananya sebagai langkah awal, hari ini Jum'at 28 April 2006 M. akan diadakan pertemuan dengan penghuni Wisma KMKM pada jam 19.00 W.K. Semoga Anda dan sahabat-sabahat yang lainya hadir.
Semoga kita dijadikan Allah orang-orang yang ikhlas dalam segala hal, selamat dunia dan akhirat. Amin.
Washallallahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajmain.
Kairo, 30 Rabiul Awal 1427 H./28 April 2006 M.,
BPPW KMKM
kmkm_wisma@yahoo.co.id
descartes filosof wrote:
Surat Terbuka
Dari Angota untuk Pengawas dan Pengurus Wisma KMKM
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pertama saya ingin meminta maaf jika sekiranya tulisan ini terlalu berlebihan.
Kedua, saya ingin meminta maaf lagi jika sekiranya tulisan ini tidak mengena.
Ketiga, saya minta maaf lagi, jika sekiranya muka saya terlalu keras dari pada hati saya.
Keempat, sekali lagi saya mohon maaf.
“Ketika cinta sudah melekat, hatta tahi kucing serasa coklat” (Ujar Urang Bahari)
Manusia memang tak pernah adil. Senyuman mereka tak pernah dibagikan secara merata kepada sesame. Manusia mungkin mudah untuk memberikan seribu senyuman kepada orang yang mereka sukai, walaupun orang ‘yang mereka sukai’ itu berkelakuan lebih buruk dari iblis. Tetapi, jangankan seribu senyuman, seperempat senyuman pun akan terasa berat diberikan kalau hati sudah membenci, walaupun orang ‘yang di benci’ itu adalah malaikat yang turun ke bumi.
Mungkin karena manusia mempunyai perasaan. Sampai-sampai ada manusia yang di perbudak oleh perasaan (mengutamakan perasaan daripada pikiran). Sehingga hatinya tertutup sebuah dinding. Hanya dengan mendengarkan apa kata perasaan, manusia sering melupakan garis kebenaran dan garis kejahatan. Padahal belum tentu apa yang dikatakan perasaaan benar adalah kebenaran, dan yang salah adalah salah. Allah lah yang maha mengetahui segalanya.
Kami jadikan malam sebagai waktu istirahat,
Dan siang sebagai waktu untuk hidup.
Peraturan bukan untuk pajangan, juga bukan untuk bacaan. Peraturan seharusnya untuk diterapkan. Yang saya hormati, Pengaawas dan Pengurus Wisma KMKM, masih ingatkah anda ketika menulis dan memajang tulisan peraturan untuk penghuni Wisma? Masih ingatkah larangan-larangan yang tertulis disitu? Masih ingatkah dengan kalimat ini:
“Wisma Kalimantan adalah uang wakaf para dermawan muslim yang mereka niatkan untuk membantu kelancaran Wisma dan keberhasilan menuntut ilmu, hal-hal yangt menyimpang dari tujuan tersebut harus dihindarkan.” (Kairo, 01 Juli 1997, M. Nuruddin Marbu, Lc)
Bukan main, Wisma kita adalah amanah dari dermawan-dermawan muslim. Sungguh besar tanggung jawab yang kita pikul. Terutama anda-anda yang telah dipercayakan anggota untuk mengawasi dan mengurusi Wisma ini. Semua tanggungjawab akan di mintai pertanggungjawaban nantinya.
Lingkungan adalah salah satu factor yang dapat mendukung keberhasilan belajar seseorang, jika lingkungan itu memang sudah baik. Ketika siang sudah di jadika waktu untuk istirahat, dan malam sudah menjadi waktu untuk hidup. Mungkin ada beberapa saudara kita yang tersiksa dengan hal itu.
Ada sebuah cerita…
Malam itu, ketika azan Isya sudah berkumandang, hamba-hamba Allah yang mengerjakan kewajipan di awal waktu sudah selesai menyembah Tuhanya. Di sebuah kamar Wisma KMKM ada seorang anggota yang telah terlelap dalam tidurnya. Dan di waktu yang sama, beberapa anggota lain sedang asyik menghibur diri dengan menyaksikan film yang mungkin menyenangkan. Mungkin karena mereka terlupa dengan hak saudaranya (yang lagi tidur), mereka mulai ngobrol sambil menyaksikan gambar bergerak di layer monitor. Ternyata hal itu agak sedikit mengganggu ketenangan beristirahat seorang teman.
“Cethah.., aduuuh.., Umaa ai buhan ikam ni.., kada kawa kah malihat kawan guring?!” mungkin karena tak kuat menahan, sampai akhirnya kata-kata itu keluar dengan nada sedikit kasar. Atau mungkin karena bunyi speaker dan suara mereka terlalu keras.
Kemudian mereka pun paham dengan hak dan kewajiban seorang teman kepada temannya. Akhirnya mereka pun meninggalkan kamar itu, dan pindah ke kamar lain. Di kamar lain itu, ternyata juga ada anggota yang sudah tidur. Tetapi, mungkin anggota yang satu ini mempunya perasaaan ‘ketidaknyamanan’ terhadap teman cukup besar. Dan akhirnya dia pun mengangkat selimut dan bantalnya keluar, dan meneruskan tidurnya di luar, di ruang tamu.
Bagaimana pendapat anda tentang perasaan?
Boleh jadi ada saudara kita yang belajarnya harus dengan mendengungkan apa yang di bacanya, dan kalau tidak begitu dia tidak bisa menghafal apa yang dibacanya itu. Sementara itu ada temannya yang tidur siang karena tadi malam begadang. Dan sudah pasti saudara kita yang ingin belajar tadi mengurungkan niatnya untuk belajar di rumah, dan terpaksa mencari tempat lain untuk belajar.
Begitulah, sedikit cerita untuk Bapak Pengawas dan Pengurus Wisma KMKM, dengan harapan dapat di pahami.
Terakhir, saya ingin bertanya kepada BPPW KMKM
“Hilangnya keanggotaan: Memutar film yang kurang sopan (amoral) di Wisma” (BPPW KMKM 2004-2005, Mukhlis Kasyful Anwar, Lc)
Apakah masih ada film Hollywood yang sopan, yang tidak melanggar perundang-undangan tentang aurat dalam agama kita?
“Larangan-larangan: Membawa video ke Wisma” (BPPW KMKM 2004-2005, Mukhlis Kasyful Anwar, Lc)
Kalau misalnya bukan video, tapi bahayanya lebih besar dari video, seperti mengcopy film dari harddesk ke harddesk , bagaimana Pak?
Semoga kita dapat menjalankan amanah dengan sebaik mungkin. Amin
Menurut saya, aturan yang tertulis lebih utama dari aturan dadakan.
Jangan hanya karena ArQam seekor ular (dengan alasan menjijikan dan berbahaya, padahal belum tentu) sehingga ArQam mendapatkan Surat Keputusan. He he he… ArQam semoga kau mendapat tempat di hati orang.
Kita bisa membayangkan, jika seandainya salah satu dermawan kita berkunjung ke Wisma. Yang mana yang lebih memalukan (berbahaya) antara dua hal dibawah ini:
(1) dia melihat salah satu penghuni Wisma memelihara reptile.
(2) dia menyaksikan penghuni Wisma sedang asyik menonton film
bersama dan tidur siang karena begadang.
Tetaplah tersenyum, dan jawab dengan hati nurani. He he he…..
Yang mana yang lebih penting diberikan SK antara dua hal tersebut..?!
Sekali lagi, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang mengkhianati kepercayaan. Tetaplah tersenyum!
Astagfirullahi min qaulin bila ‘amal
Wassalam
Anggota Wisma KMKM
Tapi akhirnya, pertemuan diadakan. Kondisi bisa dikendalikan. Semoga saja semua pihak bisa legowo.
Nih dia suratnya....
Wassalamu'alikum Warahmatullah wabarakatuh
Innalhamdaliilah wasshalatu wassalamu ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajmain.
Terima kasih kepada Sdr. Mukhlis yang memberikan masukan bagi pihak Wisma KMKM via milist ini. Insya Allah kami akan segera menindak lanjuti temuan ini. Rencananya sebagai langkah awal, hari ini Jum'at 28 April 2006 M. akan diadakan pertemuan dengan penghuni Wisma KMKM pada jam 19.00 W.K. Semoga Anda dan sahabat-sabahat yang lainya hadir.
Semoga kita dijadikan Allah orang-orang yang ikhlas dalam segala hal, selamat dunia dan akhirat. Amin.
Washallallahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajmain.
Kairo, 30 Rabiul Awal 1427 H./28 April 2006 M.,
BPPW KMKM
kmkm_wisma@yahoo.co.id
descartes filosof
Surat Terbuka
Dari Angota untuk Pengawas dan Pengurus Wisma KMKM
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pertama saya ingin meminta maaf jika sekiranya tulisan ini terlalu berlebihan.
Kedua, saya ingin meminta maaf lagi jika sekiranya tulisan ini tidak mengena.
Ketiga, saya minta maaf lagi, jika sekiranya muka saya terlalu keras dari pada hati saya.
Keempat, sekali lagi saya mohon maaf.
“Ketika cinta sudah melekat, hatta tahi kucing serasa coklat” (Ujar Urang Bahari)
Manusia memang tak pernah adil. Senyuman mereka tak pernah dibagikan secara merata kepada sesame. Manusia mungkin mudah untuk memberikan seribu senyuman kepada orang yang mereka sukai, walaupun orang ‘yang mereka sukai’ itu berkelakuan lebih buruk dari iblis. Tetapi, jangankan seribu senyuman, seperempat senyuman pun akan terasa berat diberikan kalau hati sudah membenci, walaupun orang ‘yang di benci’ itu adalah malaikat yang turun ke bumi.
Mungkin karena manusia mempunyai perasaan. Sampai-sampai ada manusia yang di perbudak oleh perasaan (mengutamakan perasaan daripada pikiran). Sehingga hatinya tertutup sebuah dinding. Hanya dengan mendengarkan apa kata perasaan, manusia sering melupakan garis kebenaran dan garis kejahatan. Padahal belum tentu apa yang dikatakan perasaaan benar adalah kebenaran, dan yang salah adalah salah. Allah lah yang maha mengetahui segalanya.
Kami jadikan malam sebagai waktu istirahat,
Dan siang sebagai waktu untuk hidup.
Peraturan bukan untuk pajangan, juga bukan untuk bacaan. Peraturan seharusnya untuk diterapkan. Yang saya hormati, Pengaawas dan Pengurus Wisma KMKM, masih ingatkah anda ketika menulis dan memajang tulisan peraturan untuk penghuni Wisma? Masih ingatkah larangan-larangan yang tertulis disitu? Masih ingatkah dengan kalimat ini:
“Wisma Kalimantan adalah uang wakaf para dermawan muslim yang mereka niatkan untuk membantu kelancaran Wisma dan keberhasilan menuntut ilmu, hal-hal yangt menyimpang dari tujuan tersebut harus dihindarkan.” (Kairo, 01 Juli 1997, M. Nuruddin Marbu, Lc)
Bukan main, Wisma kita adalah amanah dari dermawan-dermawan muslim. Sungguh besar tanggung jawab yang kita pikul. Terutama anda-anda yang telah dipercayakan anggota untuk mengawasi dan mengurusi Wisma ini. Semua tanggungjawab akan di mintai pertanggungjawaban nantinya.
Lingkungan adalah salah satu factor yang dapat mendukung keberhasilan belajar seseorang, jika lingkungan itu memang sudah baik. Ketika siang sudah di jadika waktu untuk istirahat, dan malam sudah menjadi waktu untuk hidup. Mungkin ada beberapa saudara kita yang tersiksa dengan hal itu.
Ada sebuah cerita…
Malam itu, ketika azan Isya sudah berkumandang, hamba-hamba Allah yang mengerjakan kewajipan di awal waktu sudah selesai menyembah Tuhanya. Di sebuah kamar Wisma KMKM ada seorang anggota yang telah terlelap dalam tidurnya. Dan di waktu yang sama, beberapa anggota lain sedang asyik menghibur diri dengan menyaksikan film yang mungkin menyenangkan. Mungkin karena mereka terlupa dengan hak saudaranya (yang lagi tidur), mereka mulai ngobrol sambil menyaksikan gambar bergerak di layer monitor. Ternyata hal itu agak sedikit mengganggu ketenangan beristirahat seorang teman.
“Cethah.., aduuuh.., Umaa ai buhan ikam ni.., kada kawa kah malihat kawan guring?!” mungkin karena tak kuat menahan, sampai akhirnya kata-kata itu keluar dengan nada sedikit kasar. Atau mungkin karena bunyi speaker dan suara mereka terlalu keras.
Kemudian mereka pun paham dengan hak dan kewajiban seorang teman kepada temannya. Akhirnya mereka pun meninggalkan kamar itu, dan pindah ke kamar lain. Di kamar lain itu, ternyata juga ada anggota yang sudah tidur. Tetapi, mungkin anggota yang satu ini mempunya perasaaan ‘ketidaknyamanan’ terhadap teman cukup besar. Dan akhirnya dia pun mengangkat selimut dan bantalnya keluar, dan meneruskan tidurnya di luar, di ruang tamu.
Bagaimana pendapat anda tentang perasaan?
Boleh jadi ada saudara kita yang belajarnya harus dengan mendengungkan apa yang di bacanya, dan kalau tidak begitu dia tidak bisa menghafal apa yang dibacanya itu. Sementara itu ada temannya yang tidur siang karena tadi malam begadang. Dan sudah pasti saudara kita yang ingin belajar tadi mengurungkan niatnya untuk belajar di rumah, dan terpaksa mencari tempat lain untuk belajar.
Begitulah, sedikit cerita untuk Bapak Pengawas dan Pengurus Wisma KMKM, dengan harapan dapat di pahami.
Terakhir, saya ingin bertanya kepada BPPW KMKM
“Hilangnya keanggotaan: Memutar film yang kurang sopan (amoral) di Wisma” (BPPW KMKM 2004-2005, Mukhlis Kasyful Anwar, Lc)
Apakah masih ada film Hollywood yang sopan, yang tidak melanggar perundang-undangan tentang aurat dalam agama kita?
“Larangan-larangan: Membawa video ke Wisma” (BPPW KMKM 2004-2005, Mukhlis Kasyful Anwar, Lc)
Kalau misalnya bukan video, tapi bahayanya lebih besar dari video, seperti mengcopy film dari harddesk ke harddesk , bagaimana Pak?
Semoga kita dapat menjalankan amanah dengan sebaik mungkin. Amin
Menurut saya, aturan yang tertulis lebih utama dari aturan dadakan.
Jangan hanya karena ArQam seekor ular (dengan alasan menjijikan dan berbahaya, padahal belum tentu) sehingga ArQam mendapatkan Surat Keputusan. He he he… ArQam semoga kau mendapat tempat di hati orang.
Kita bisa membayangkan, jika seandainya salah satu dermawan kita berkunjung ke Wisma. Yang mana yang lebih memalukan (berbahaya) antara dua hal dibawah ini:
(1) dia melihat salah satu penghuni Wisma memelihara reptile.
(2) dia menyaksikan penghuni Wisma sedang asyik menonton film
bersama dan tidur siang karena begadang.
Tetaplah tersenyum, dan jawab dengan hati nurani. He he he…..
Yang mana yang lebih penting diberikan SK antara dua hal tersebut..?!
Sekali lagi, semoga kita bukan termasuk orang-orang yang mengkhianati kepercayaan. Tetaplah tersenyum!
Astagfirullahi min qaulin bila ‘amal
Wassalam
Anggota Wisma KMKM

1 Comments:
bujur banar..salut22..ini san kenagan2an selama jadi pengawas wisma hehe
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home